blue did you know modern style background design

CERITA ELBERT #ANAKHEBAT

Halo!

Nama perkenalkana nama saya Edbert Sebastian Ghozali Putra M. Saya pernah menjalani pengobatan/perawatan Osteosarcoma pada tahun 2013.

Pada akhir tahun 2012 sekitar bulan November-Desember, ketika saya masih kelas 6 SD dan pada saat itu saya sedang mengikuti pelajaran olahraga disekolah, tangan saya tertarik oleh teman saya seperti terplintir ke belakang. Saya merasa tangan saya sangat sakit, tapi hal tersebut tidak saya beritahukan ke orang tua karena saya pikir akan sembuh dengan sendirinya.

Setelah hampir kurang lebih 3 minggu dari kejadian tersebut, akhirnya saya memberitahukan kejadian tersebut ke orang tua saya. Kemudian orang tua saya langsung membawa saya ke panti pijat karena mereka pikir itu hanyalah keseleo biasa. Saya dipijat selama 3 minggu berturut-turut lamanya. Ternyata tangan saya bukannya semakin sembuh, malah semakin bengkak dan tukang urut mengatakan bahwa beliau tidak sanggup dan menyarankan agar saya berobat ke dokter.

            Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyarankan agar tangan saya di rontgen dan saya langsung melakukan saran dokter tersebut. Setelah hasil rontgen keluar, dokter memberitahukan hasil rontgen saya bahwa ada ditemukan Bone Tumor (Tumor Tulang).  Kemudian dokter merujuk saya ke bagian Orthopaedic untuk pemeriksaan lebih lanjut.

            Ketika di bagian Orthopaedic, kami disuruh untuk melakukan sejumlah pemeriksaan seperti cek darah, rontgen ulang, MRI, bone scan dan finalnya adalah biopsi. Setelah hasil biopsi keluar, ternyata benar saya diizinkan Tuhan mengidap Osteosarcoma (Kanker Tulang). Setelah didiagnosa kanker tulang, kami dirujuk ke bagian Hematologi untuk jadwal kemoterapi. Di bagian Hematologi, saya dijadwal 6 siklus kemoterapi, 3 siklus pertama lalu observasi ulang dan dilanjutkan kemoterapi 3 siklus berikutnya.

            Kemoterapi pertama saya jalani, badan saya kaget dan langsung mengeluarkan efek kemoterapi seperti mual, muntah, sariawan dan rambut rontok hingga botak. Bahkan saking kagetnya saya, saya dehidrasi di kemoterapi pertama dan harus dipindahkan ke ruang isolasi karena kondisi yang sangat lemah hingga harus ditrasfusi darah sebanyak 21 kantong darah, 18 kantong darah merah dan 3 kantong darah putih. Selama kemoterapi pertama, saya berada di rumah sakit selama 3 minggu.

            Kemoterapi kedua dan kemoterapi ketiga saya lewati, dengan efek yang sama dan kondisi tubuh yang sangat lemah. Setelah 3 kali kemoterapi, saya dikembalikan ke bagian Orthopaedic untuk diobservasi. Berbagai pemeriksaan kami jalani ulang seperti cek darah, rontgen ulang, MRI dan bone scan yang hasilnya memungkinkan saya untuk dioperasi.

            Operasi pertama terjadwal tanggal 23 Mei 2013, operasi pertama berjalan selama delapan jam dan tidak langsung diamputasi, tetapi dilihat mana tulang yang terkena kanker dan harus dibuang sementara tangan saya dibiarkan kosong untuk menunggu besok hari akan dioperasi lagi. Dan operasi kedua saya ikuti, ini adalah operasi yang paling lama karena berjalan selama 12 jam dari jam 2 siang hingga jam 2 pagi. Operasi ini akan mengambil tulang kecil di bagian betis saya untuk disambungkan ke tangan yang terkena kanker. Dioperasi ini dokter harus menggunakan kacamata mikroskop karena yang dioperasi bukan hanya tulang tapi juga syaraf-syarafnya. Salah satu efek dari diambilnya tulang dan syaraf dari kaki saya adalah ibu jari kaki kanan saya yang mati dan tidak bisa bergerak. Karena operasi ini, saya di rawat di ICU.

            Setelah operasi kedua, ternyata di bagian yang dioperasi terjadi penggumpalan darah dan memaksa untuk dioperasi ulang sebanyak 3 kali untuk diambil gumpalan darah yang ada 500 cc untuk operasi pertama dan ± 450 cc di operasi kedua dan ketiga. Jadi jika ditotal, maka saya lewati 5 kali operasi dalam kurun waktu 7 hari. Setelah 7 hari masih ada masa pemulihan dan saya dirawat di rumah sakit selama 1 bulan pada pertengahan 2013.

            Setelah dipebolehkan pulang, saya masih harus bolak-balik rumah sakit karena harus ganti perban pasca operasi. Dan lambat laun, kanker itu masih ada dan membengkak lagi kebagian lengan sebelah kanan. Saya bersyukur ternyata kankernya menyebar ke jari-jari tidak menyebar ke atas seperti bagian otak, jantung dan paru-paru yang terdekat. Setelah membengkak lagi, dokter memutuskan untuk harus diamputasi. Tanggal 4 Juli 2013, saya dioperasi amputasi yang berjalan selama 8 jam. Setelah dioperasi, saya kembali di observasi dan dirujuk kembali ke bagian Hematologi serta diharuskan untuk kemoterapi 3 siklus terakhir.

            Kemoterapi keempat, kelima dan keenam kembali dijalani, efek yang dirasakan seperti sudah menjadi makanan hari-hari, rumah sakit, suntik, dan obat-obatan seakan menjadi teman dalam menjalani kemoterapi. Setelah 3 siklus terakhir, kembali diobservasi apakah harus dilakukan kemoterapi tambahan atau tidak. Dan hasilnya tidak ada kemoterapi tambahan.

            Setelah dinyatakan tidak ada kemoterapi tambahan, kembali saya menjalani cek darah dan segala rontgen. Dan hasilnya tidak ada lagi kanker di dalam tubuh saya. Setelah 5 tahun pasca operasi, atau tepatnya pada tahun 2018 saya sudah dinyatakan sembuh dari kanker. Namun, tetap pengobatan rutin harus dilakukan seperti kontrol dan cek darah tidak boleh berhenti karena itulah yang menjadi pedoman kalau saya sudah sembuh.

            Setelah dinyatakan sembuh, tahun 2014 saya melanjutkan pendidikan dengan  mendaftarkan diri untuk sekolah di tingkat SMP. Dan sampai hari ini di usia saya yang ke-19 saya sudah menjadi Mahasiswa Baru Angkatan 2020 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Program Studi Pendidikan Ekonomi, artinya sudah 7 tahun saya lewati pengobatan kanker dan saya rasakan bahwa penyertaan Tuhan selalu nyata, dalam keadaan apapun Tuhan selalu ada dan menemani saya dalam setiap pengobatan. Kalau saya bisa bersekolah, beraktivitas seperti biasa itu semua tidak lepas dari pertolongan Tuhan yang tidak pernah terlambat. Memasuki tahun 7 pasca operasi, saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya dalam segala hal, Tuhan selalu ada untuk saya.

            Teruntuk teman-teman dan adik-adik yang masih berjuang melawan Cancer, tetap semangat! Memang pengobatannya tidak mudah, tetapi percayalah kesembuhan menanti kita. Jangan patah semangat, maju terus, yakinlah kesembuhan total menjadi bagian kita!

 

blue did you know modern style background design

WEBINAR DETEKSI DINI KANKER ANAK BERSAMA DR. HARIDINI INTAN S.MAHDI, SPA(K)., SEBAGAI SPESIALIS ANAK KONSULTAN HEMATOLOGI ONKOLOGI ANAK

Yayasan Kanker Anak Indonesia berkerja sama dengan Lions International Club mengadakan webinar untuk mengedukasi semua orang bagaiamana mendeteksi dini kanker anak. Bersama dengan dr. Haridini Intan S.Mahdi, SpA(K)., sebagai Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi Anak, dan juga dipandu dengan seorang  moderator
.
Dengan dr. Haridini Intan S.Mahdi, SpA(K)., sebagai Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi, menjelaskan kanker pada anak, apa yang harus diketahu, Jenis-jenis kanker anak Leukemia, tumor padat, apa yang harus di waspadai Penentuan stadium Pada kasus yang diketahui secara dini, pasien dapat sembuh.

Awal penyakit sukar diketahui, mudah diobati ,Penyakit yang sudah lanjut mudah diketahui, sukar diobati”(Niccolo Machiavelli 1469-1527) ,” ujarnya saat Webinar Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) bertema Deteksi Dini Kanker Anak, Rabu 14 Oktober 2020.

Lebih lanjut dokter Tanti menjelaskan sehingga orang tua, Mengajar dan memberi contoh kepada anak-anak tentang pentingnya.
 Berikut Merupakan Ringkas Mater Berserta Penjelasan Gambar yang ada :