WhatsApp Image 2021-01-22 at 15.15.06

Webinar Tentang Peduli Pasien Kanker Bersama Puskesmas Ciracas

Jakarta – YKAI, Pada bulan Januari Yayasan Kanker Anak Indonesia mengadakan  Webinar bersama Puskesmas Ciracas. Webinar ini diadakan melalui via zoom dengan diikuti kurang lebih 50 peserta lainnya. Membahas Tips Mengelola Emosi Pasien Kanker dengan pembicara Dian Fatmawati, S.Psi, M.Psi. dan membahas  Resiliensi Selama Kemoterapi Pada Pasien Kanker dengan pembicara Sulastry Pardade.

Membahas Tips Mengelola Pasien Kanker ini sangat bermanfaat untuk pengetahuan orangtua bagaimana mengetahui perasaan anak dengan kanker yang sering muncul. Seperti, menyangkal, marah, nyeri, sedih, takut, tidak semangat, rasa bersalah, kesepian, tertekan dan lainnya. Dan bagaimana cara orangtua bisa mengatasi dan dapat mengelola emosi anak-anaknya yang menderita kanker sehingga anaknya bisa terus bersemangat dan mempunyai kemauan atau harapan untuk terus sembuh.

Pembahasan yang kedua membahas tentang “Resiliensi Selama Kemoterapi Pada Pasien Kanker“, pembahasan ini sangat menambah ilmu untuk kita mengetahui apa itu resiliensi, faktor yang mendukung resiliensi, bagaimana proses terbentuknya resiliensi pada anak dan orangtua dan khususnya resiliensi anak yang menderita kanker. Pembahasan ini bertujuan untuk  orangtua bisa menumbuhkan harapan agar proses kemoterapi dapat terlaksana dengan lancar

 

Webinar tentang Peduli Pasien Kanker bisa ditonton diyoutube chanel Yayasan Kanker Anak Indonesia

 

Link  : 

https://www.youtube.com/watchv=o3PLcjayZO8&list=UU2Wrj3d4W6BrUnli4uH0JMA&index=1&ab_channel=YayasanKankerAnakIndonesia

 

IMG_2093-min

Peformance Angklung (Special Event) : Pesona Angklung with Melvina (Cancer Survivor)

Jakarta – YKAI, pandemi COVID-19 tak menyurutkan para ibu-ibu angklung dari Pesonda Angklung dalam menyambut natal dan tahun baru. 

 

Dengan mempunyai hati yang besar, berasal dari perbedaan agama dan suku ibu-ibu tetap memberikan penampilan yang terbaik terkhususnya Bersama Melvina yang adalah seorang cancer survivior.

 

Di saat yang sama, angklung masa kini menjadi alat musik yang banyak dimainkan para musisi dengan berbagai latar belakang musik dalam kolaborasi dengan alat music lainnya. Intinya, angklung tetap hidup dan eksis sejak dulu hingga kini.

 

Gelaran acaranya berlangsung pada 12,13 dan 17 Desember 2020 North Lobby,

Lokasi Christmas Tree, Gandaria City dan Lobby Wisma KeiaiJl. Jend. Sudirman, Jakarta. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan protokol kesehatan yaitu menjaga jarak, menggunakan face shield.

Pada 12,13 dan 17 Desember 2020, Pesona Angklung berkolaborasi Bersama anak cancer survivor berusia 14 tahun yang sudah berjuang melawan kanker dan kini ia memiliki motivasi untuk mau menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya yang sedang berjuang dalam melawan kanker

 

Niat baik ini sangat disambut dengan baik oleh pihak Gandaria City maupun Wisma Keiai dalam memberikan tempat dan juga mendapatkan apresiasi yang baik oleh tenan-tenan di Wisma Keiai

 

Dengan dukungan dan penampilan dari pesona Angklung dan Melvina semoga ada harapan dan sukacita yang baru dalam menyambut Natal dan Tahun 

 

blue did you know modern style background design

CERITA ELBERT #ANAKHEBAT

Halo!

Nama perkenalkana nama saya Edbert Sebastian Ghozali Putra M. Saya pernah menjalani pengobatan/perawatan Osteosarcoma pada tahun 2013.

Pada akhir tahun 2012 sekitar bulan November-Desember, ketika saya masih kelas 6 SD dan pada saat itu saya sedang mengikuti pelajaran olahraga disekolah, tangan saya tertarik oleh teman saya seperti terplintir ke belakang. Saya merasa tangan saya sangat sakit, tapi hal tersebut tidak saya beritahukan ke orang tua karena saya pikir akan sembuh dengan sendirinya.

Setelah hampir kurang lebih 3 minggu dari kejadian tersebut, akhirnya saya memberitahukan kejadian tersebut ke orang tua saya. Kemudian orang tua saya langsung membawa saya ke panti pijat karena mereka pikir itu hanyalah keseleo biasa. Saya dipijat selama 3 minggu berturut-turut lamanya. Ternyata tangan saya bukannya semakin sembuh, malah semakin bengkak dan tukang urut mengatakan bahwa beliau tidak sanggup dan menyarankan agar saya berobat ke dokter.

            Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyarankan agar tangan saya di rontgen dan saya langsung melakukan saran dokter tersebut. Setelah hasil rontgen keluar, dokter memberitahukan hasil rontgen saya bahwa ada ditemukan Bone Tumor (Tumor Tulang).  Kemudian dokter merujuk saya ke bagian Orthopaedic untuk pemeriksaan lebih lanjut.

            Ketika di bagian Orthopaedic, kami disuruh untuk melakukan sejumlah pemeriksaan seperti cek darah, rontgen ulang, MRI, bone scan dan finalnya adalah biopsi. Setelah hasil biopsi keluar, ternyata benar saya diizinkan Tuhan mengidap Osteosarcoma (Kanker Tulang). Setelah didiagnosa kanker tulang, kami dirujuk ke bagian Hematologi untuk jadwal kemoterapi. Di bagian Hematologi, saya dijadwal 6 siklus kemoterapi, 3 siklus pertama lalu observasi ulang dan dilanjutkan kemoterapi 3 siklus berikutnya.

            Kemoterapi pertama saya jalani, badan saya kaget dan langsung mengeluarkan efek kemoterapi seperti mual, muntah, sariawan dan rambut rontok hingga botak. Bahkan saking kagetnya saya, saya dehidrasi di kemoterapi pertama dan harus dipindahkan ke ruang isolasi karena kondisi yang sangat lemah hingga harus ditrasfusi darah sebanyak 21 kantong darah, 18 kantong darah merah dan 3 kantong darah putih. Selama kemoterapi pertama, saya berada di rumah sakit selama 3 minggu.

            Kemoterapi kedua dan kemoterapi ketiga saya lewati, dengan efek yang sama dan kondisi tubuh yang sangat lemah. Setelah 3 kali kemoterapi, saya dikembalikan ke bagian Orthopaedic untuk diobservasi. Berbagai pemeriksaan kami jalani ulang seperti cek darah, rontgen ulang, MRI dan bone scan yang hasilnya memungkinkan saya untuk dioperasi.

            Operasi pertama terjadwal tanggal 23 Mei 2013, operasi pertama berjalan selama delapan jam dan tidak langsung diamputasi, tetapi dilihat mana tulang yang terkena kanker dan harus dibuang sementara tangan saya dibiarkan kosong untuk menunggu besok hari akan dioperasi lagi. Dan operasi kedua saya ikuti, ini adalah operasi yang paling lama karena berjalan selama 12 jam dari jam 2 siang hingga jam 2 pagi. Operasi ini akan mengambil tulang kecil di bagian betis saya untuk disambungkan ke tangan yang terkena kanker. Dioperasi ini dokter harus menggunakan kacamata mikroskop karena yang dioperasi bukan hanya tulang tapi juga syaraf-syarafnya. Salah satu efek dari diambilnya tulang dan syaraf dari kaki saya adalah ibu jari kaki kanan saya yang mati dan tidak bisa bergerak. Karena operasi ini, saya di rawat di ICU.

            Setelah operasi kedua, ternyata di bagian yang dioperasi terjadi penggumpalan darah dan memaksa untuk dioperasi ulang sebanyak 3 kali untuk diambil gumpalan darah yang ada 500 cc untuk operasi pertama dan ± 450 cc di operasi kedua dan ketiga. Jadi jika ditotal, maka saya lewati 5 kali operasi dalam kurun waktu 7 hari. Setelah 7 hari masih ada masa pemulihan dan saya dirawat di rumah sakit selama 1 bulan pada pertengahan 2013.

            Setelah dipebolehkan pulang, saya masih harus bolak-balik rumah sakit karena harus ganti perban pasca operasi. Dan lambat laun, kanker itu masih ada dan membengkak lagi kebagian lengan sebelah kanan. Saya bersyukur ternyata kankernya menyebar ke jari-jari tidak menyebar ke atas seperti bagian otak, jantung dan paru-paru yang terdekat. Setelah membengkak lagi, dokter memutuskan untuk harus diamputasi. Tanggal 4 Juli 2013, saya dioperasi amputasi yang berjalan selama 8 jam. Setelah dioperasi, saya kembali di observasi dan dirujuk kembali ke bagian Hematologi serta diharuskan untuk kemoterapi 3 siklus terakhir.

            Kemoterapi keempat, kelima dan keenam kembali dijalani, efek yang dirasakan seperti sudah menjadi makanan hari-hari, rumah sakit, suntik, dan obat-obatan seakan menjadi teman dalam menjalani kemoterapi. Setelah 3 siklus terakhir, kembali diobservasi apakah harus dilakukan kemoterapi tambahan atau tidak. Dan hasilnya tidak ada kemoterapi tambahan.

            Setelah dinyatakan tidak ada kemoterapi tambahan, kembali saya menjalani cek darah dan segala rontgen. Dan hasilnya tidak ada lagi kanker di dalam tubuh saya. Setelah 5 tahun pasca operasi, atau tepatnya pada tahun 2018 saya sudah dinyatakan sembuh dari kanker. Namun, tetap pengobatan rutin harus dilakukan seperti kontrol dan cek darah tidak boleh berhenti karena itulah yang menjadi pedoman kalau saya sudah sembuh.

            Setelah dinyatakan sembuh, tahun 2014 saya melanjutkan pendidikan dengan  mendaftarkan diri untuk sekolah di tingkat SMP. Dan sampai hari ini di usia saya yang ke-19 saya sudah menjadi Mahasiswa Baru Angkatan 2020 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Program Studi Pendidikan Ekonomi, artinya sudah 7 tahun saya lewati pengobatan kanker dan saya rasakan bahwa penyertaan Tuhan selalu nyata, dalam keadaan apapun Tuhan selalu ada dan menemani saya dalam setiap pengobatan. Kalau saya bisa bersekolah, beraktivitas seperti biasa itu semua tidak lepas dari pertolongan Tuhan yang tidak pernah terlambat. Memasuki tahun 7 pasca operasi, saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya dalam segala hal, Tuhan selalu ada untuk saya.

            Teruntuk teman-teman dan adik-adik yang masih berjuang melawan Cancer, tetap semangat! Memang pengobatannya tidak mudah, tetapi percayalah kesembuhan menanti kita. Jangan patah semangat, maju terus, yakinlah kesembuhan total menjadi bagian kita!

 

blue did you know modern style background design

WEBINAR DETEKSI DINI KANKER ANAK BERSAMA DR. HARIDINI INTAN S.MAHDI, SPA(K)., SEBAGAI SPESIALIS ANAK KONSULTAN HEMATOLOGI ONKOLOGI ANAK

Yayasan Kanker Anak Indonesia berkerja sama dengan Lions International Club mengadakan webinar untuk mengedukasi semua orang bagaiamana mendeteksi dini kanker anak. Bersama dengan dr. Haridini Intan S.Mahdi, SpA(K)., sebagai Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi Anak, dan juga dipandu dengan seorang  moderator
.
Dengan dr. Haridini Intan S.Mahdi, SpA(K)., sebagai Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi, menjelaskan kanker pada anak, apa yang harus diketahu, Jenis-jenis kanker anak Leukemia, tumor padat, apa yang harus di waspadai Penentuan stadium Pada kasus yang diketahui secara dini, pasien dapat sembuh.

Awal penyakit sukar diketahui, mudah diobati ,Penyakit yang sudah lanjut mudah diketahui, sukar diobati”(Niccolo Machiavelli 1469-1527) ,” ujarnya saat Webinar Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) bertema Deteksi Dini Kanker Anak, Rabu 14 Oktober 2020.

Lebih lanjut dokter Tanti menjelaskan sehingga orang tua, Mengajar dan memberi contoh kepada anak-anak tentang pentingnya.
 Berikut Merupakan Ringkas Mater Berserta Penjelasan Gambar yang ada :